Friday, April 22, 2016

Inspirasi Hari Ini


Suatu hari seorang lelaki pemarah mendamprat kakeknya dengan kata2 kasar.

Sang Kakek mendengarkannya dengan sabar, tenang, tidak berkata sepatah pun.

Akhirnya lelaki itu berhenti memaki.

Setelah itu,Kakek bertanya kepadanya,
"Jika seseorang memberimu sesuatu tapi kamu tidak menerimanya, lalu menjadi milik siapakah pemberian itu ?”

“Tentu saja menjadi milik si pemberi.” Jawab lelaki itu.

”Begitu pula dengan kata2 kasarmu,” timpal Kakek.l
”Aku tidak mau menerimanya, jadi itu milikmu. Kamu harus menyimpannya sendiri. Aku mengkhawatirkan kalau nanti kamu harus menanggung akibatnya, karena kata2 kasar hanya akan membuahkan penderitaan.
Sama seperti orang yamg ingin mengotori langit dengan meludahinya, ludahnya hanya akan jatuh mengotori wajahnya sendiri.”

Bila tak mungkin memberi jangan mengambil .
Bila terlalu sulit mengasihi jangan membenci .
Bila tak bisa menghiburl orang lain, jangan kau membuatnya sedih .
Bila tak bisa memuji, jangan menghujat.
Bila tak bisa menghargai, jangan menghina .
Bila tak suka bersahabat, jangan bermusuhan .
Bunga yang tak akan pernah layu dimuka bumi ini adalah "kebajikan". 

Sunday, April 10, 2016




Fenomena yang terjadi saat ini sangat memprihatinkan. Kita dikenal sebagai bangsa yang religius, banyak orang taat beragama, tempat ibadah ada dimana-mana. Tapi ternyata kejahatan terus terjadi, korupsi dan fitnah merajalela.

Hal ini menunjukkan bahwa kita tidak mampu membawa perbedaan antara yang beragama dengan yang tidak. Kita masih terpaku pada “religius”, BUKAN “spiritual” !!!

Menurut definisi awam, orang religius adalah orang yang agamis, rajin ibadah, terkadang dari penampilannya terlihat (sengaja diperlihatkan), menampilkan simbol-simbol agama.

Orang spiritual adalah orang yang baik, bukan hanya dalam menjalankan perintah agama saja, atau di tempat ibadah saja, tapi ia baik DIMANAPUN ia berada.

Ada 5 PERBEDAAN antara religius dengan spiritual :

1. Orang religius adalah orang yang percaya bahwa Tuhan itu ada. Sedangkan orang spiritual adalah orang yang percaya bahwa Tuhan itu hadir. Orang melakukan perbuatan tidak baik karena ia berpikir Tuhan hanya ada, tapi tidak hadir. Sedangkan orang spiritual berpikir bahwa Tuhan ada di manapun dia berada.

2. Orang religius adalah orang yang merasa paling suci dan paling benar. Orang spiritual adalah orang yang melihat semua orang adalah setara, semua punya kelebihan dan kekurangan.

3. Orang religius adalah orang yang mudah melihat perbedaan, dan sensitif dengan perbedaan. Orang spiritual adalah orang yang mudah melihat persamaan, mau menerima perbedaan, mau mendengarkan orang lain.

4. Orang religius adalah orang yang hanya mementingkan simbol-simbol agama dan ritual agama saja. Orang spiritual adalah orang yang menyembunyikan ibadahnya dari orang lain, dan mempraktekkan keagamaan nya dimanapun dan kapanpun.

5. Orang religius adalah orang yang baik dalam urusan ibadah saja. Orang spiritual adalah orang yang baik dalam semua urusan, karena menganggap semua urusan adalah ibadah.

Tanpa spiritual, ibadah yang dilakukan hanya menjadi ritual semata. Ritual agama diperlukan, tapi harus dilakukan dengan kesadaran dan cinta kepada Tuhan.

Religius adalah cara untuk meraih spiritual. Kita bisa menjadi spiritual tanpa melakukan hal-hal yang religius. Tapi hal itu tidaklah lengkap, karena beragama tanpa ibadah tidaklah lengkap.

Untuk menjadi orang yang spiritual kita harus ingat dengan esensi dan hakekat kita ada di dunia ini, dan mencari makna dari setiap yang kita lakukan.

6. Orang religius exclusive. Orang spiritual membumi.

Mari menjadi orang yang spiritual !!! ���

Kiranya Tuhan Senantiasa memberkati .

7 Habits You Should Pick Up if You Want to Be Seen as a Leader

7 Habits You Should Pick Up if You Want to Be Seen as a Leader

Powerful people don’t become powerful by chance. They aren’t born leaders, they don’t get randomly selected, and they aren’t handed power on a silver platter. Instead, power comes to them as a result of their behaviors, their actions, and their habits. Because of this, it’s possible for anyone to rise to a position of power, whether that’s in the formal political sense or just in the context of your own office—all it takes is the right combination of habits, and the right mentality.
If you’re seeking more power or influence in your own life, or you just want to model your lifestyle on the powerful leaders that came before you, take inspiration from these seven habits:

1. They Never Speak Too Much

Abraham Lincoln was once quoted as saying that it’s “better to remain silent and be thought a fool than to speak out and remove all doubt.” Certainly, some of the most powerful people in the world have established their reputation by speaking clearly, eloquently, and often, but even in those cases, you’ll find that the speaker always says as little as possible. The effect is two-fold; first, in accordance with Abe Lincoln’s wise quote, the less you say, the less you will betray about yourself. Quiet people are often seen as more intelligent and influential simply because they have fewer opportunities to say things they regret. Second, the more concisely you speak, the more authoritative you will appear. Strive for conversational minimalism.

2. They’re Flexible

Rather than coming up with an idea or strategy and adhering to it rigidly, powerful people tend to be adaptable. This doesn’t mean always compromising when you encounter opposition to your idea, but it does mean being willing to find an alternative way around a given obstacle; perhaps if your boss can’t be persuaded, you can seek approval elsewhere within the company. The world is unpredictable and full of unexpected challenges, so the most adaptable people tend to be the ones who solve the most problems, and are therefore seen as the most powerful.

3. They Don’t Argue

Arguments can be functional, though in most cases, they waste energy that could better be spent proving your case through an action. If you voice your opinion only to be met with dissent, don’t waste time further arguing your points or trying to convince someone who has in all likelihood already made up their mind. Instead, get to work on your plan and actively demonstrate that your side of the argument is the correct one. It’s easy to argue against an idea, but it’s nearly impossible to argue against results. Powerful people aren’t worried about winning through an argument; they simply want the best possible results, and won’t waste time bickering to get there.

4. They Stay Active in the Community

This works on multiple levels; powerful people engage with their families, engage with their colleagues, and engage with their friends and community members. They never isolate themselves or try to gain power alone. In isolation, it’s easy to develop problems of perspective, and it’s hard to stay tuned to what’s going on around you. Powerful people are appreciated because they’re socially involved with the people around them, and they are respected because they stay up to date. You can’t do either of these things if you remove yourself from your people.

5. They Think Several Moves Ahead

In chess, as in life, the people who plan furthest ahead tend to come out on top. Powerful people tend to forgo rewards of the moment for greater rewards of the future, and are willing to make temporary sacrifices if that’s what it takes to achieve victory.
For example, most successful entrepreneurs first must go through a period of fiscal uncertainty and psychologically demanding work—a sacrifice that most people simply aren’t willing to make. They know that they’ll face several months of risk and hardship, but if they plan carefully and work hard, eventually the payouts are enormous.

6. They Time Things Carefully

In many cases, what you do doesn’t matter nearly as much as when you do it. Think about a simple scenario in which you must break some bad news to your boss. Is it better to do it when your boss is flustered and annoyed, between meetings? Or better to do it during a period of calm, when he or she is in a relatively good mood? Think carefully before committing to any action, whether it’s as fleeting as a social greeting or as monumental as the launch of your company’s debut product.

7. They Distinguish Themselves

Powerful leaders don’t emerge unless they somehow distinguish themselves from the group in some way. If you spend your life going along with the flow, following the actions of those around you, and adhering to societal norms, it’s going to be virtually impossible for you to develop a powerful, influencing personality. Instead, make the effort to work harder than others, or speak louder than others, or think differently from others. It’s the only way to stand out.



Budi punya celengan ayam di rumah. Tapi maminya Budi selalu cek isi celengan Budi setiap kali Budi memecahkan / membuka celengannya.

Amir juga punya celengan Ayam di rumahnya sendiri tapi gak pernah di cek sama maminya Amir. Maka Budi titip celengan Ayamnya di rumahnya Amir.

Mendengar bahwa Celengan ayam Amir gak pernah di cek sama mamanya Amir. Maka teman2 Amir dan Budi semua titip celengan Ayam di rumah Amir. (Ini offshore investment)

Suatu hari mamanya Amir periksa kamar Amir dan mendapati ada banyak celengan Ayam disana (ini accidental audit) lengkap dengan label nama pemiliknya (inilah Panama Paper). Maka mama Amir mengontak semua Mama-Mama penitip celengan Ayam.

Ternyata Budi menitipkan celengan Ayam disana karena Mama Budi memaksa Budi untuk memberi kolekte dari celengan itu setiap Budi memecahkan celengannya (ini pajak)

Tapi Tigor mengisi celengannya dari hasil memalak teman-temannya (ini money laundering)

Acong mengisi celengannya dari hasil berjualan es lilin di sekolah tanpa ijin ortunya yang menginginkannya fokus pada sekolahnya (ini illegal business)

dll dsb

Inilah penjelasan Panama Paper secara Pelajaran PMP.

Ade Sugeng Wiguno


One day, a very wealthy man was walking on the road. Along the way, he saw a beggar on the sidewalk.

The rich man looks kindly on the beggar and asked, "How did you become a beggar?

The beggar said, "Sir, I've been applying for a job for a year now but haven't found any. You look like a rich man. Sir, if you'll give me a job, I'll stop begging."

The rich man smiled and said, "I want to help you. But I won't give you a job. I'll do something better. I want you to be my business partner. Let's start a business together."

The beggar blinked hard. He didn't understand what the older man was saying. "What do you mean, Sir?"

"I own a rice plantation. You could sell my rice in the market. I'll provide you the sacks of rice. I'll pay the rent for the market stall.. All you'll have to do is sell my rice. And at the end of the month, as Business Partners, we'll share in the profits."

Tears of joy rolled down his cheeks.
"Oh Sir," he said, "you're a gift from Heaven. You're the answer to my prayers. Thank you, thank you, thank you!"

He then paused and said, Sir, how will we divide the profits ? Do I keep 10% and you get the 90%? Do I keep 5% and you get the 95%? I'll be happy with any arrangement."

The rich man shook his head and chuckled. "No, I want you to give me the 10%. And you keep the 90%."

For a moment, the beggar couldn't speak. When he tried to speak, it was gibberish. Uh, gee, uh, wow, I mean, huh? He couldn't believe his ears. The deal was too preposterous.

The rich man laughed more loudly. He explained, "I don't need the money, my friend. I'm already wealthy beyond what you can ever imagine. I want you to give me 10% of your profits so you grow in gratitude "

The beggar knelt down before his benefactor and said, "Yes Sir, I will do as you say. Even now, I'm so grateful for what you've done for me!"

And so that was what happened. He forgets where the blessings came from. Each day, the beggar now dressed a little bit better operated a store selling rice in the market. He worked very hard. He woke up early in the morning and slept late at night. And sales were brisk, also because the rice was of good quality. And after 30 days, the profits were astounding.

At the end of the month, as the ex-beggar was counting the money, and liking very much the feeling of money in his hands, an idea grew in his mind. He told himself, Gee, why should I give 10% to my Business Partner? I didn't see him the whole month! I was the one who was working day and night for this business. I did all this work! I deserve the 100% profits!

A few minutes later, the rich man was knocking on the door to collect his 10% of the profits. The ex-beggar opened the door and said, "You don't deserve the 10%. I worked hard for this. I deserve all of it!" And he slammed the door.

If you were his Business Partner, how would you feel?

This is exactly what happens to us, God is Our Business Partner. God gave us life-every single moment, every single breath, every single second. God gave us talents-ability to talk, to create, to earn money. God gave us a body-eyes, ears, mouth, hands, feet, heart. God gave us mind- imagination, emotions, reasoning, language.

Sharing 10% with him is an expression of gratitude and pure love...not that He needs it.  He is rich beyond imagination.   But we seem to forget to do our bit out of  immense gratitude, joy &  love...




Ciri orang malas membiarkan waktu berlalu, tanpa digunakan berbuat sesuatu; hanya berargumentasi dan produksi alasan, untuk melegalkan sikap malasnya.

Ciri orang pasif dalam berbuat baik, selalu menunggu waktu; mencari hari mau pun menghitung jam yang baik, untuk digunakan berbuat baik.

Ciri orang rajin serta kreatif dalam kebaikan, selalu mencari waktu untuk digunakan melatih berbuat baik; setiap waktu adalah kebaikan, tidak ada waktu terbuang tanpa kebaikan.

Ciri orang aktif sekaligus memotivasi orang dalam kebaikan, selain bisa menggunakan waktu untuk berbuat baik ; juga terus mengondisikan orang lain, agar ikut serta untuk berbuat kebaikan.

Ingat dalam renungan ini, bukan di ajak menjadi pengamat tipe manusia; melainkan untuk mengubah dan membentuk tipe diri sendiri, dari tipe negatif menjadi positif. 



Seorang anak bertanya kepada ayahnya: "Temanku memiliki ayah yang membiarkan nyamuk menggigit tangannya sampai kenyang, maksudnya supaya nyamuk itu tak akan menggigit anaknya karena sudah kenyang. Apakah ayah juga  akan begitu ?"

Ayah : ...."Tidak nak, ayah akan mengejar setiap nyamuk sepanjang malam, supaya nyamuk itu tidak sempat menggigit siapapun juga termasuk engkau nak.."

Anak : ..."Aku pernah membaca tentang seorang ayah yang rela tidak makan agar anak2nya bisa makan kenyang.  Apakah ayah akan begitu juga ?"

Ayah :...."Tidak nak, Ayah akan bekerja keras agar agar kita semua bisa makan dengan kenyang & kamu tidak harus menjadi sulit menelan karena merasa tidak tega melihat ayahmu sedang menahan lapar".

Sang anakpun tersenyum lega dan merasa bangga terhadap ayahnya :

Anak : ..."Jadi yah, aku bisa selalu bersandar padamu kan?" 

Sambil memeluk anaknya  sang ayah berkata : "Tidak nak, ayah akan MENGAJARIMU berdiri kokoh di atas kakimu sendiri, supaya engkau tidak  jatuh tersungkur ketika suatu saat kelak, ayah harus pergi meninggalkanmu".

Saudaraku, Orang tua yang bijak, bukan hanya berhasil menjadikan dirinya tempat bersandar, tetapi juga mampu membuat sandaran tersebut tidak diperlukan lagi...!



Memberi adalah awal dari penerimaan, Menerima adalah akhir dari pemberian.

Kalahkan kemarahan dengan cinta kasih

Kalahkan kejahatan dengan kebajikan.

Kalahkan kekikiran dengan kemurahan hati.

Kalahkan kebohongan dengan kebenaran.

Semoga di mudahkan segala urusan kita.

Dan segera di wujudkan apa yang menjadi harapan kita...



Wisdom's worth listening to:

Don't worry about what will happen after you are gone, because when you return to dust, you will feel nothing about praises or criticisms.

Don't worry too much about your children for children will have their own destiny and find theirown way. Dont be your children's slave

Don't expect too much from your children. Caring children, though caring, would be too busy with their jobs and commitments to render any help.

Uncaring children may fight over your assets even when you are still alive, and wish for your early demise so they can inherit your properties.

Your children take for granted that they are rightful heirs to your wealth; but you have no claims to their money.

60-year olds like you, dont trade in your health for wealth anymore………….
Because your money may not be able to buy your health………

When to stop making money, and how much is enough (hundred thousands, million, ten million)?

Out of thousand hectares of good farm land, you can only consume three quarts (of rice) daily;

out of a thousand of mansions, you only need eight square meters of space to rest at night.

So as long as you have enough food and enough money to spend, that is good enough. So you should live happily.

Every family has its own problems. Just do not compare with others for fame and social status and see whose children are doing better, etc. but challenge others for happiness, health and longevity………….
Dont worry about things that you can't change because it doesnt help and it may spoil your health.

You have to create your own well-being and find your own happiness;

As long as you are in good mood, think about happy things, do happy things daily and have fun in doing, then you will pass your time happily every day..

One day passes, you will lose one day;…One day passes with happiness, and then you gain one day.

In good spirit, sickness will cure; in happy spirit, sickness will cure fast; in good and happy spirit; sickness will never come.

With good mood, suitable amount of exercise, always in the sun, variety of foods, reasonable amount of vitamin and mineral intake, hopefully you will live another 20 or 30 years of healthy life.

Above all learn to cherish the goodness around ……and FRIENDS……..they all make you feel young and "wanted"…without them you are surely to feel lost!!

Wishing you all the best.

Do share this with all your friends who are 60 plus and those who will be 60 plus after some time.

Mengapa Orang Superkaya Amerika tak masuk Panama Paper ?

Tulisan Bang Jusman Syafii Djamal

Mengapa Orang Superkaya Amerika tak masuk Panama Paper ?

Kebetulan saya punya junior di ITB, Indra Gautama yang sudah lima belas tahun tinggal di Amerika, jadi pertanyaan itu saya ajukan padanya. Tadinya saya ikuti logika Presiden Putin dan Petinggi China yang bilang panama paper ini kan yang membobol serta menyebar luaskannya dari Barat atau buatan hackers Amerika jadi wajar kalau tidak ada nama orang Amerika disana. Yang diserang hanyalah yang non Amerika.
Panama Paper ini teridiri 11,5 juta dokumen yang tersimpan di data basenya Monceca Fonseca. Ada 4,8 juta email. 3 juta database.2,2 juta file pdf. 1,1 juta imej dan 320 ribuan text document dibobol isinya. Akibatnya mirip peristiwa wikileaks. Bikin geger jagat politik ekonomi dunia. Perdana Menteri Islandia mengundurkan diri, karena ada nama isterinya disana. PM Inggris David Cameron sibuk menjelaskan posisi , karena ada nama orang tuanya dalam daftar tersebut. Begitu juga Presiden Putin agak blingsatan karena ada nama teman karibnya disana. China dan Indonesia juga dibuat geger oleh munculnya Panama Paper ini.
Yang adem ayem dan tenang hanya orang super kaya dan pemimpin politik di Amerika. Tadinya saya ingin mencari apa nama Donald Trump ada disana ? Atau Bill Gate ? Ternyata tidak ada. Tidak satupun orang Amerika yang menngungsikan kekayaannya di luar Negeri untuk menghindari pajak di Negaranya. Padahal Amerika katanya adalah negara yang hidup dari pajak. Mengapa ?
Melalui wa teman saya Indra Gautama malam malam mengirim sebuah tulisan dari Market Watch. Dalam kolom opinion ada tulisan berjudul :"America's super rich are hiding trillions of dollars in plain sight". Karya Brett Arends yang dipublish 7 April 2016 jam Pesannya singkat "Bang Jusman ini ada tulisan bagus, bisa dijadikan lesson learned dalam facebook abang". Ha ha dia tau juga kalau hari sabtu ngga ada kegiatan, tangan saya gatal menulis fb. Sebagai rasa terima kasih kiriman artikelnya saya sarikan untuk dishare disini.
Orang super kaya Amerika kata tulisan itu tak perlu mencari humberger di Panama, sebab di Amerika sudah ada "steak" yang lebih lezat. Kongres dan para Senator penulis undang undang pajak di Amerika memang dengan sengaja mendisain aturan pajak yang memanjakan orang super kaya dan orang yang miskin. Yang pajaknya tinggi bukan pemilik asset akan tetapi mereka yang mempunyai pendapatan atau income yang amat besar.
Income adalah objek pajak. Kekayaan bukan objek pajak. Seseorang yang memiliki income atau pendapatan 50,000 dollar per tahun pastilah harus membayar pajak pendapatan, baik yang dipungut negara federal maupun negara bagian. Akan tetapi mereka yang memiliki asset 10 milyar dollar tak perlu bayar pajak sepeserpun. Karenanya mereka yang super kaya di Amerika bisa membeli lukisan masa lalu untuk menyimpannya. Membeli rumah di Manhattan untuk memelihara gedung gedung tua. Dan menjadikannya sebagai asset bukan income. Jika ingin membayar operasi sehari hari mereka bisa dengan hidup melalui kredit bank dengan jaminan harta bendanya yang tanpa pajak.
Disana seolah tidak ada skandal karena orang super kaya tidak perlu menghindari pajak atau tax avoidance. Harta bendanya bisa disimpan dengan terang benderang kasat mata tanpa ada orang yang mengganggu.
Jika harta yang bebas pajak itu ingin ditukar menjadi uang cash, pajak penghasilan karena proses jual beli harta itu atau capital gain yang diperoleh kena pajak sebesar 20 %. Jika ingin diwariskan kepada anak cucunya juga para konsultan pajak yang legal bisa menyusun rekomendasi agar anak cucunya tidak kehilangan harta dan tak membayar pajak serta pungutan ini dan itu terlalu besar. Tak heran disana ada dynansti Rockefeller, Ford, Boeing, Bush, Kennedy dan lain sebagainya. Orang kaya lama. Sementara orang kaya baru seperti Mark Elliot Zuckerberg dalam usia 32 tahun dengan kekayaan lebih dari 12 Milyar Dollar muncul melalui inovasinya.
Jika harta tersebut digunakan untuk menciptakan lapangan kerja mereka juga akan diberi insentip dengan pajak yang lebih murah sebesar 15,3 %, itupun masih dapat dibuat lebih ringan dengan keahlian para konsultan pajak yang dapat mengatur nya menjadi potongan pajak yang telah dibayarkan oleh para pekerja yang digaji dari hasil usaha itu.
Selain upaya untuk menciptakan lapangan kerja sebagai tata cara Orang super kaya di Amerika menghindari pajak di Negarana. Mereka juga bisa menggunakan skema pendirian badan amal atau charity foundation. Tak heran jika salah seorang paling kaya di dunia yakni Bill Gate dan Melinda mendirikan Yayasan untuk memberantas penyakit dan mengalokasikan dana untuk memerangi penyakit yang melanda orang miskin diseluruh dunia. Begitu juga yang lain. Badan amal atau charity foundation adalah cara legal yang elegan untuk mengurangi pajak.
Dengan kata lain jika ada orang super kaya di Amerika ingin mendapatkan "tax heaven" mereka tak perlu mencari Virgin Island atau tempat lainnya. Tax heaven ada di Negaranya sendiri. Mengapa mesti makan di restoran jika dirumah tersedia makan siang dan malam yang enak karena isteri pintar memasak.
Dari contoh di Amerika ini kita sebetulnya dapat pelajaran berharga. Membuat aturan pajak itu tidak perlu meniru VOC yang menyebabkan Diponegoro marah dan angkat senjata, sebab tanah kuburan orang tua dan leluhurnya pun ingin dikenakan pajak oleh VOC. Kita juga tak perlu membuat aturan pajak bumi dan bangunan yang telah menjadi harta para pensiunan dengan pungutan pbb yang semakin lama semakin meroket. Sehingga para orang kaya lama di Jakarta terpaksa tergusur dari Menteng dan pindah ke pinggiran kota.
Indonesia memerluka pajak tentu semua orang sefaham. Kita kekurangan orang membayar pajak jelas diketahui.
Tapi jika semua kesempatan orang super kaya untuk menciptakan lapangan kerja juga ikut dipersukar dengan pajak ini dan itu tentu perlu ada kecerdasan disini. Saya kebetulan bukan ahli pajak dan tidak mengetahui seluk beluk tentang pajak. Akan tetapi sebagai seorang insinyur tentu ada keinginan agar di Indonesia mampu menjadi "surga nya para insinyur", yang dapat bekerja dipelbagai industri yang ada.
Menurut hemat saya dengan aturan pajak perusahaan yang semakin hari semakin tinggi. tak mungkin di Indonesia tumbuh industri yang baik. Sebab, semua mata rantai "value added" seolah ada pungutan pajaknya. Bahkan ada pungutan parkir dan pungutan pajak lampu jalan jika kita mendirikan industri di kawasan industri. Begitu juga makin bagus airport atau bandara makin besar pula "airport tax" nya.
Kita seolah menjadikan para industriawan dan para saudagar sebagai kuda beban. Tak peduli apakah ia kuda yang ringkih atau masih segar bugar. Mungkin itu salah satu alasan mengapa ada orang Indonesia yang terpaksa mencari Virgin Island dan masuk kedalam Panama Paper.
Meski dari seorang teman alumni itb yang kebetulan namanya masuk daftar panama paper saya juga jadi tau ternyata ada orang yang terdaftar di panama paper belum tentu itu merupakan kejahatan pula. Salah satu alasannya adalah krisis ekonomi. Bagi semua pengusaha yang hidup tahun 1997 dan 1998 ketika krisis Asia juga mengalami masa sulit berusaha, letter credit yang diterbitkan tidak laku, credit card yang dibuat di Indonesia sukar digunakan di luar Negeri dan banyak kendala lain akibat kredibilitas sistem keuangan Indonesia dimasa itu berada dititik nadir. Semua pengusaha ketika itu hanya punya satu jalan untuk bertransaksi secara internasional yakni mendirikan "SPV", Special Purpose Vechicle.
Meski kita juga tak menutup mata mungkin saja ada orang yang masuk dalam daftar panama paper yang perlu diselidiki petugas pajak dan penegak hukum apa yang sesungguhnya terjadi.
Dengan kata lain, melalui tulisan yang dikirim dalam wa teman saya Indra yang kini bekerja di Amerika itu kita bisa sedikit mengerti mengapa orang super kaya Amerika tidak masuk dalam daftar panama paper.
Salah satu sebabnya adalah tata aturan dan tatakelola sistim pajak disana yang memang dirancang oleh Kongres untuk diarahkan memanjakan orang super kaya agar mereka dapat menciptakan lapangan kerja dan pelbagai kegiatan badan amal yang mampu membuat gap kaya miskin semakin menyempit.
Dan sistim pajak juga tidak menyentuh mereka yang sedang bangkrut, menganggur dan tak punya income. Tak heran jika Universitas di Amerika memiliki "dana abadi yang luar biasa besar" sebab donasi ke Universitas adalah bagian dari "tax heaven". Begitu juga mengapa banyak "angel investor" dan hedge funds di Silicon Valley, sebab menjadi investor bagi para pengembang teknologi juga bagian dari upaya untuk mendapatkan insentip pajak.
Mungkin saja pendekatan Amerika msih banyak yang tidak sempurna. Akan tetapi dasar pendekatan ini dapat dijadikan salah satu percontohan. Dimana undang undang pajak dibuat sedemikian rupa dengan maksud untuk memberi ruang pada upaya kita bersama meningkatkan lapangan kerja, mendirikan industri dan penciptaan jumlah saudagar yang dapat meningkatkan jumlah penerimaan pajak.
Jika di Indonesia bisa jadi "tax heaven", jika di Indonesia ada aturan pajak yang dapat meringankan beban pajak jika dana dimanfaatkan untuk menciptakan lapangan kerja, donasi pada universitas, pendirian badan amal dan pesantren serta kegiatan menyentuh aktivitas yang mempersempit kaya miskin dapat dijadikan bagian dari insentif pajak. Mengapa perlu orang Indonesia lari ke Panama ?
Saya tdak tau pasti tentang kendalanya sebab saya bukan ahlinya. Apa saya keliru, wallahu alam. in just food for thought.
Mudah mudahan berkenan. Salam...