Friday, March 11, 2016

HOW TO BE A GODLY EMPLOYEE

HOW TO BE A GODLY EMPLOYEE
(based on the 10 Commandments)

1. Trust in God only.
Trust in no one but GOD. People will disappoint you. God created you and has a wonderful plan for your life. He is too good to do wrong, and too wise to make a mistake. Let His peace abide in you. (Proverbs 3 :5-6)

2. Worship God only.
Don't make your career, your company, or your boss a god. If you do, you will provoke Him to jealously and will end up fighting Him. In fact, He may hinder you from achieving what you want until you are broken of the idolatry. (Exodus 20:5).

3. Use God's Name Reverently.
Don't swear!! Clean words come out of a clean heart! If your co-workers know that you are a Christian, but they hear the Lord's Name used in vain, or cursing and swearing from your mouth, you will give the appearance of being a hypocrite. Matthew 15:17-19).

4. Work Six Days and Rest on the Seventh.
Before you beg for more vacation time, ask yourself a few questions, "Do you honor the Sabbath?" God has already given you 52 days of time off that equates to seven weeks. "Are your expectations for work, vacation, and retirement realistic?" By resting one day a week, you can avoid burnout. (Genesis 3:17-19).

5. Respect and Obey Your Boss.
You should respect and obey your boss, because you don't know what it's like to be in their shoes. Plus, your ultimate boss is the Lord. Serve Him faithfully on the job, and He will bless you. However, if your boss commands you to do something illegal or immoral, you must make a stand and obey God rather than man. (Ephesians 6:5-8).

6. Protect and Respect Human Life.
Emotional, mental, physical, and spiritual manipulation, abuses and violence have no place in the workplace...or any place. You do not have the right to use and abuse your boss, co-workers, employees, customers, or suppliers. (1 Thessalonians 3:1-2).

7. Be True to Your Spouse.
If you are not getting the kind of attention that you feel you deserve at home, it's common to seek it with someone at work. Honor your wedding vows by avoiding company romances! They are very tempting, very real, and very common. They are also very wrong and very destructive. (Matthew 19:8-9).

8. Do Not Take What Belongs to Others.
Stealing at work can take many forms. You can choose to steal materials, money, time, productivity , and joy from your employer and others. Do not remove your integrity by stealing. (II Corinthians 7:1-2).

9. Do Not Lie About Others.
Do not fabricate stories about your boss, co-workers, and spread gossip for the sake of company politics. You are here to be the salt and the light, not the pepper and the darkness!! Truth always rises to the surface, and eventually you will be ashamed and rebuked if you lie. (II Peter 2: 10-13 ).

10. Be Satisfied With What You Have.

Contentment doesn't mean that you cannot pursue God-given goals, but it does mean that you are content with what He has provided you with, day after day. Contentment is a rare quality in today's culture, but it is extremely liberating! Materialism, striving for rank , backstabbing, and discontent lead to emotional, mental, financial, and spiritual bondage. (I Timothy 6:6-11 ).

12 RAHASIA AWET MUDA MENURUT ALKITAB

12 RAHASIA AWET MUDA MENURUT ALKITAB
• 1. Hadapilah segala masalah dengan santai dan tenang.(1 KOR 10 : 13)

• 2. Bersedih hati janganlah terlalu berkepanjangan. (NEH 8 : 10 ; ROM 12 : 12 ; PKH 3 : 1 - 1l)

• 3. Aktiflah dalam kerja dan pelayanan.(ROM 12 : 11)

• 4. Jauhkanlah amarah karena amarah memakan energi yang berpengaruh buruk terhadap  fisik. (AMS 19 : 19)

• 5. Bila segala sesuatu dapat diselesaikan dengan ketenangan, mengapa harus dibarengi dengan ketegangan?  (AMS 17 : 19 - 20)

• 6. Kedengkian dan iri hati berpengaruh buruk terhadap peredaran darah dan jantung.  MAZ 37 : 1)

• 7. Hadapi orang yang sedang marah dengan tenang dan jangan masukkan dalam hati.

​(AMs 14 : 29)

• 8. Jangan mempedulikan hal2 yang dilakukan orang lain, bereaksilah dengan benar.  (ROM 12 : 17 - 21)

• 9. Dunia ini berputar, bila kita sedang berada di bawah, jangan putus asa, ada saatnya  kita pasti naik ke atas ber hati2 lah supaya kita tidak jatuh.    (2 KOR 4 : 17)

• 10. Hadapilah penderitaan dengan  percaya kepada Tuhan, karena penderitaan selalu membawa hikmah suatu kebahagiaan.  (KEJ 50 : 20)

•  11. Fisik harus kita jaga dengan olahraga dan makanan seh  (1 TIM 4 : 8)

•  12. Jangan lekas merasa tua karena dibanding dengan hari esok kita masih muda  sekarang ( AMS 3 : 1 - 7).

Tuesday, December 15, 2015

HIDUP ADALAH PROSES BELAJAR !!!

HIDUP ADALAH PROSES BELAJAR !!!
•☆••☆••☆••☆••☆••☆•


Terkadang kita sering meminta,
namun setelah TUHAN memberi,
kita malah menggerutu.


Coba kita bayangkan & kita renungkan pada saat kita mau...

Mau Sabar ???
Tunggu saja, akan ada orang² yang keras kepala datang dalam hidup kita.

Mau belajar Mengampuni ???
Sebentar lagi kita akan di perhadapkan orang² yang menyakiti kita.

Mau belajar Memberi ???
Sebentar lagi kita akan di perhadapkan orang² yang berkekurangan.

Mau Rendah Hati ???
Tunggu saja, akan ada orang² yang merendahkan diri kita.

JADI...
Apapun yang sedang kita hadapi,
itulah proses belajar menjadi Lebih Baik & Dewasa.

Jangan marah & menggerutu,

tapi Belajarlah & Responi dengan benar.

Jika kita tidak bersedia belajar,
maka tidak seorang pun dapat membantu kita.

Tetapi jika kita bersedia belajar,
maka tidak seorang pun dapat menghalangi kita.

Hidup adalah Proses Pembelajaran,
jadilah murid terbaik.

Saat kekuatan mulai melemah,
bukan berarti kita harus menyerah.

Saat semangat mulai pudar,
bukan berarti kita harus menghindar.

Saat kegigihan mulai rapuh,
bukan berarti kita harus terjatuh.

Kasih Sayang TUHAN tidak selalu terasa manis,
tapi terkadang pahit.

Di sinilah Proses Hidup hidup kita jalani untuk mencapai Keberhasilan Hidup. 

Monday, December 14, 2015

UTAMAKAN PENDIDIKAN ANAK

Anak anak yang dididik dalam keluarga yang penuh kesantunan, etika tata krama & sikap kesederhanaan akan tumbuh menjadi anak anak yang tangguh, disenangi & disegani banyak orang.

Mereka tahu aturan makan (table manner) di restoran mewah.
Tapi tidak canggung makan di warteg/kaki lima.
Mereka sanggup beli barang-barang mewah.
Tapi tahu mana yang keinginan dan kebutuhan.
Mereka biasa pergi naik pesawat antar kota.
Tapi santai saja saat harus naik angkot kemana-mana.
Mereka berbicara formal saat bertemu orang berpendidikan.
Tapi mampu berbicara santai saat bertemu orang jalanan.
Mereka berbicara visioner saat bertemu rekan kerja.
Tapi mampu bercanda lepas bertemu teman sekolah.
Mereka tidak norak saat bertemu orang kaya.
Tapi juga tidak merendahkan orang yang lebih miskin darinya.

Mereka mampu membeli barang-barang bergengsi.
Tapi sadar kalau yang membuat dirinya bergengsi adalah kualitas & kapasitas dirinya, bukan dari barang yang dikenakan.
Mereka punya..
Tapi tidak teriak kemana -mana.
Kerendahan hati yang membuat orang lain menghargai dan menghormati dirinya.

Jangan didik anak dari kecil dengan penuh kemanjaan, apalagi sampai melupakan kesantunan & etika tata krama.

Hal hal sederhana tentang kesantunan seperti :
Pamit saat pergi dari rumah, permisi saat masuk ke rumah temen (karena ternyata banyak orang masuk ke rumah orang tidak punya sopan santun, tidak menyapa orang orang yang ada di rumah itu), kembalikan pinjaman uang sekecil apapun, berani minta maaf saat ada kesalahan & tahu berterima kasih jika dibantu sekecil apapun. Kelihatannya sederhana, tapi orang yang tidak punya attitude itu tidak akan mampu melakukannya.

Bersyukurlah, bukan karena kita terlahir di keluarga yang kaya atau cukup.
Bersyukurlah kalau kita terlahir di keluarga yang mengajarkan kita kesantunan, etika tata krama & kesederhanaan.

Karena ini jauh lebih mahal dari pada sekedar uang !!!

Sunday, September 13, 2015

Kisah Inspiratif Sempatkan Baca dan di Share “IBU, AKU TIDAK MAU JADI PAHLAWAN, AKU MAU JADI ORANG YANG BERTEPUK TANGAN DI TEPI JALAN.”

“IBU, AKU TIDAK MAU JADI PAHLAWAN, AKU MAU JADI ORANG YANG BERTEPUK TANGAN DI TEPI JALAN.”


Di kelasnya ada 50 orang murid, setiap kenaikan kelas, anak perempuanku selalu mendapat ranking ke-23. Lambat laun ia dijuluki dengan panggilan nomor ini. Sebagai orangtua, kami merasa panggilan ini kurang enak didengar, namun anehnya anak kami tidak merasa keberatan dengan panggilan ini.

Pada sebuah acara keluarga besar, kami berkumpul bersama di sebuah restoran. Topik pembicaraan semua orang adalah tentang jagoan mereka masing-masing. Anak-anak ditanya apa cita-cita mereka kalau sudah besar? Ada yang menjawab jadi dokter, pilot, arsitek bahkan presiden. Semua orangpun bertepuk tangan.

Anak perempuan kami terlihat sangat sibuk membantu anak kecil lainnya makan. Semua orang mendadak teringat kalau hanya dia yang belum mengutarakan cita-citanya. Didesak orang banyak, akhirnya dia menjawab:..... "Saat aku dewasa, cita-citaku yang pertama adalah menjadi seorang guru TK, memandu anak-anak menyanyi, menari lalu bermain-main".

Demi menunjukkan kesopanan, semua orang tetap memberikan pujian, kemudian menanyakan apa cita-citanya yang kedua. Diapun menjawab: “Saya ingin menjadi seorang ibu, mengenakan kain celemek bergambar Doraemon dan memasak di dapur, kemudian membacakan cerita untuk anak-anakku dan membawa mereka ke teras rumah untuk melihat bintang”. Semua sanak keluarga saling pandang tanpa tahu harus berkata apa. Raut muka suamiku menjadi canggung sekali.

Sepulangnya kami kembali ke rumah, suamiku mengeluhkan ke padaku, apakah aku akan membiarkan anak perempuan kami kelak hanya menjadi seorang guru TK?

Anak kami sangat penurut, dia tidak lagi membaca komik, tidak lagi membuat origami, tidak lagi banyak bermain. Bagai seekor burung kecil yang kelelahan, dia ikut les belajar sambung menyambung, buku pelajaran dan buku latihan dikerjakan terus tanpa henti. Sampai akhirnya tubuh kecilnya tidak bisa bertahan lagi terserang flu berat dan radang paru-paru. Akan tetapi hasil ujian semesternya membuat kami tidak tahu mau tertawa atau menangis, tetap saja rangking 23.

Kami memang sangat sayang pada anak kami ini, namun kami sungguh tidak memahami akan nilai sekolahnya.
Pada suatu minggu, teman-teman sekantor mengajak pergi rekreasi bersama. Semua orang membawa serta keluarga mereka. Sepanjang perjalanan penuh dengan tawa, ada anak yang bernyanyi, ada juga yang memperagakan kebolehannya. Anak kami tidak punya keahlian khusus, hanya terus bertepuk tangan dengan sangat gembira.

Dia sering kali lari ke belakang untuk mengawasi bahan makanan. Merapikan kembali kotak makanan yang terlihat sedikit miring, mengetatkan tutup botol yang longgar atau mengelap wadah sayuran yang meluap ke luar. Dia sibuk sekali bagaikan seorang pengurus rumah tangga cilik.

Ketika makan, ada satu kejadian tak terduga. Dua orang anak lelaki teman kami, satunya si jenius matematika, satunya lagi ahli bahasa Inggris berebut sebuah kue. Tiada seorang pun yang mau melepaskannya, juga tidak mau saling membaginya. Para orang tua membujuk mereka, namun tak berhasil. Terakhir anak kamilah yang berhasil melerainya dengan merayu mereka untuk berdamai.

Ketika pulang, jalanan macet. Anak-anak mulai terlihat gelisah. Anakku membuat guyonan dan terus membuat orang-orang semobil tertawa tanpa henti. Tangannya juga tidak pernah berhenti, dia mengguntingkan berbagai bentuk binatang kecil dari kotak bekas tempat makanan. Sampai ketika turun dari mobil bus, setiap orang mendapatkan guntingan kertas hewan shio-nya masing-masing. Mereka terlihat begitu gembira.

Selepas ujian semester, aku menerima telpon dari wali kelas anakku. Pertama-tama mendapatkan kabar kalau rangking sekolah anakku tetap 23. Namun dia mengatakan ada satu hal aneh yang terjadi. Hal yang pertama kali ditemukannya selama lebih dari 30 tahun mengajar. Dalam ujian bahasa ada sebuah soal tambahan, yaitu SIAPA TEMAN SEKELAS YANG PALING KAMU KAGUMI & APA ALASANNYA.

Semua teman sekelasnya menuliskan nama : ANAKKU!

Mereka bilang karena anakku sangat senang membantu orang, selalu memberi semangat, selalu menghibur, selalu enak diajak berteman, dan banyak lagi.

Si wali kelas memberi pujian: “Anak ibu ini kalau bertingkah laku terhadap orang, benar-benar nomor satu”.

Saya bercanda pada anakku, “Suatu saat kamu akan jadi pahlawan”. Anakku yang sedang merajut selendang leher tiba2 menjawab “Bu guru pernah mengatakan sebuah pepatah, ketika pahlawan lewat, harus ada orang yang bertepuk tangan di tepi jalan.”

“IBU, …..AKU TIDAK MAU JADI PAHLAWAN, …. AKU MAU JADI ORANG YANG BERTEPUK TANGAN DI TEPI JALAN.”

Aku terkejut mendengarnya. Dalam hatiku pun terasa hangat seketika. Seketika hatiku tergugah oleh anak perempuanku. Di dunia ini banyak orang yang bercita-cita ingin menjadi seorang pahlawan. Namun Anakku memilih untuk menjadi orang yang tidak terlihat. Seperti akar sebuah tanaman, tidak terlihat, tapi ialah yang mengokohkan.

Jika ia bisa sehat, jika ia bisa hidup dengan bahagia, jika tidak ada rasa bersalah dalam hatinya, MENGAPA ANAK2 KITA TIDAK BOLEH MENJADI SEORANG BIASA YANG BERHATI BAIK & JUJUR…


***Cerita ini didapat dari sebuah post. telah ditulis ulang dengan beberapa penyempurnaan.
Semoga bermanfaat. ***