14 Foods that Will Fight Cancer For You |
Cancer, unlike
many other diseases, comes from within the innermost processes of our bodies. It
is one of the most internally focused diseases, and as such, what we do with our
bodies throughout our life and continue to every day - has a huge impact on our
chances to develop it. Nutrition plays a huge role, and that is why it is
crucial to know the foods that fight to prevent cancer from developing in our
bodies.
|
People fear cancer and many believe there is
little they can do to prevent it. They put factors such as hereditary or genetic
or sheer bad luck. However, research shows
that this is not the case, and that lifestyle factors such as diet can play a
major role in preventing cancer.
Did you know that about a third of all
cancers are linked to bad eating habits?
|
There are small
amounts of cancer in all our bodies. Most of them never get anywhere and are
destroyed early on. What we call cancer are the ones that continue to get bigger
and aren't stop by the immune systen. Anticancer molecules present in fruits and
vegetables fight cancers at the source, before they can reach
maturity. |
Tuesday, October 21, 2014
14 Foods that Will Fight Cancer For You
Thursday, January 22, 2009
8 MATA ANGIN
Suatu ketika di negeri Cina ada seorang murid yang telah bertahun2 belajarilmu kebijakan dari seorang maha guru di sebuah pulau terpencil. Dan ia merasa sudah sangat cukup menuntut ilmu. Ia merasa sedih tiba waktunya untuk mengabdikan dirinya pada masyarakat di pulau seberang, tempat ia dilahirkan.
Singkat cerita, ia minta izin dan pamit pada sang guru untuk meninggalkan pulau terpencil itu. Sang murid tiba di tanah kelahirannya dan disambut baik oleh masyarakatnya. Beberapa waktu kemudian, ia telah berhasil mendirikan sebuah perguruan dan memiliki banyak murid. Ia pun lalu tersohor sebagai guru ilmu kebijakanyang dijadikan panutan.
Suatu saat ia teringat pada sang guru, di pulau terpencil sana. Ia ingin menunjukkan hasil pengabdiannya selama ini. Ia ingin menunjukkan prestasinya di masyarakat pada gurunya. Ia lalu menulis sebuah kitab yangberisi ajaran2 kebijakan. Kitab itu ia beri judul "Kitab Delapan MataAngin". Alasannya, karena siapa saja yang mengamalkan isi kitab itu, maka ia akan tetap tegar dalam kebenaran meskipun diterpa badai dan angin taufan dari 8 penjuru mata angin. Setelah memeriksanya berulang2, dan yakin akan isi kitab yang ditulisnya, ia mantap untuk mengirim kitab itu kepadagurunya.
Ia lalu mengutus salah satu muridnya untuk mengantar kitab itu ke pulauterpencil nun jauh di sana. Sang guru menerima kiriman "Kitab Delapan Mata Angin " dengan suka cita. Namun, tanpa diduga, setelah membaca isinya, sang maha guru itu mencoret2 sampul kitab itu dengan tulisan "Kamu ternyata tak lebih dari Angin Kentut belaka!" Sang guru mengembalikan kitab itu lewat utusan sang murid.
Dan betapa terkejutnya sang murid ketika menerima dan membaca tulisan gurunya disampul kitab kebanggaannya. Mukanya merah padam. Ia merasa terhina bukanbuatan."Guru ini tak bisa menghargai orang lain! Guru macam apa dia!" geramnyamarah. Hari itu juga ia langsung memutuskan untuk menyeberangi lautan menemuigurunya.
Ia ingin minta "pertanggungjawaban" sang guru. Ia ingin tau apa maksud gurunya menulis kata2 kasar di sampul kitabnya itu.Sampai di padepokan sang guru, ia langsung menemui gurunya. Dengan nada geram, ia bertanya pada gurunya, "Apa sebenarnya maksud guru menulis kata2 kotor seperti ini?" Ia tunjukkan sampul kitabnya itu pada gurunya.
Sang mahaguru menjawab dengan kalem, "Lho, katanya kamu mampu bertahan dari gempuran badai dan angin taufan dari 8 penjuru mata angin? Tapi kenapa hanya dengan tiupan angin kentut sudah membuatmu terpental dari pulau seberang ke pulau terpencil ini, dengan raut muka tidak karuan bentuknya, heh!?"Mendengar jawaban sang guru, sang murid malunya bukan kepalang. Ia sangat menyesali kesalahannya.
Ia langsung mendapatkan satu ilmu lagi dari gurunya yang sangat penting, bahwa setinggi apapun kebijakkan yang terucap di bibir atau tertulis di buku, tidak lebih berarti daripada yang terpatri dalam hati yang benar2 dihayati dan diamalkan dalam bentuk keteladanan nyata..Dan akhirnya sang murid pulang ke pulau seberang dan menutup perguruannya untuk sementara karena ingin berguru kembali ke pulau tetangga yang lain...
"Cerita hikmat dari negri Cina, inspirasi dari Tsai Chih Chung."
Singkat cerita, ia minta izin dan pamit pada sang guru untuk meninggalkan pulau terpencil itu. Sang murid tiba di tanah kelahirannya dan disambut baik oleh masyarakatnya. Beberapa waktu kemudian, ia telah berhasil mendirikan sebuah perguruan dan memiliki banyak murid. Ia pun lalu tersohor sebagai guru ilmu kebijakanyang dijadikan panutan.
Suatu saat ia teringat pada sang guru, di pulau terpencil sana. Ia ingin menunjukkan hasil pengabdiannya selama ini. Ia ingin menunjukkan prestasinya di masyarakat pada gurunya. Ia lalu menulis sebuah kitab yangberisi ajaran2 kebijakan. Kitab itu ia beri judul "Kitab Delapan MataAngin". Alasannya, karena siapa saja yang mengamalkan isi kitab itu, maka ia akan tetap tegar dalam kebenaran meskipun diterpa badai dan angin taufan dari 8 penjuru mata angin. Setelah memeriksanya berulang2, dan yakin akan isi kitab yang ditulisnya, ia mantap untuk mengirim kitab itu kepadagurunya.
Ia lalu mengutus salah satu muridnya untuk mengantar kitab itu ke pulauterpencil nun jauh di sana. Sang guru menerima kiriman "Kitab Delapan Mata Angin " dengan suka cita. Namun, tanpa diduga, setelah membaca isinya, sang maha guru itu mencoret2 sampul kitab itu dengan tulisan "Kamu ternyata tak lebih dari Angin Kentut belaka!" Sang guru mengembalikan kitab itu lewat utusan sang murid.
Dan betapa terkejutnya sang murid ketika menerima dan membaca tulisan gurunya disampul kitab kebanggaannya. Mukanya merah padam. Ia merasa terhina bukanbuatan."Guru ini tak bisa menghargai orang lain! Guru macam apa dia!" geramnyamarah. Hari itu juga ia langsung memutuskan untuk menyeberangi lautan menemuigurunya.
Ia ingin minta "pertanggungjawaban" sang guru. Ia ingin tau apa maksud gurunya menulis kata2 kasar di sampul kitabnya itu.Sampai di padepokan sang guru, ia langsung menemui gurunya. Dengan nada geram, ia bertanya pada gurunya, "Apa sebenarnya maksud guru menulis kata2 kotor seperti ini?" Ia tunjukkan sampul kitabnya itu pada gurunya.
Sang mahaguru menjawab dengan kalem, "Lho, katanya kamu mampu bertahan dari gempuran badai dan angin taufan dari 8 penjuru mata angin? Tapi kenapa hanya dengan tiupan angin kentut sudah membuatmu terpental dari pulau seberang ke pulau terpencil ini, dengan raut muka tidak karuan bentuknya, heh!?"Mendengar jawaban sang guru, sang murid malunya bukan kepalang. Ia sangat menyesali kesalahannya.
Ia langsung mendapatkan satu ilmu lagi dari gurunya yang sangat penting, bahwa setinggi apapun kebijakkan yang terucap di bibir atau tertulis di buku, tidak lebih berarti daripada yang terpatri dalam hati yang benar2 dihayati dan diamalkan dalam bentuk keteladanan nyata..Dan akhirnya sang murid pulang ke pulau seberang dan menutup perguruannya untuk sementara karena ingin berguru kembali ke pulau tetangga yang lain...
"Cerita hikmat dari negri Cina, inspirasi dari Tsai Chih Chung."
Monday, June 02, 2008
If only I could see the World
There was a blind girl who hated herself because she was blind.
She hated everyone, except her loving boyfriend. He was always there for her.
She told her boyfriend, 'If I could only see the world, I will marry you.'
One day, someone donated a pair of eyes to her. When the bandages came off, she was able to see everything, including her boyfriend.
He asked her,' Now that you can see the world, will you marry me?'
The girl looked at her boyfriend and saw that he was blind. The sight of his closed eyelids shocked her. She hadn't expected that. The thought of looking at them the rest of her life led her to refuse to marry him.
Her boyfriend left her in tears and days later wrote a note to her saying: 'Take good care of your eyes, my dear, for before they were yours, they were mine.'
This is how the human brain often works when our status changes.
Only a very few remember what life was like before, and who was always by their side in the most painful situations.
Life Is a Gift
Today before you say an unkind word -
Think of someone who can't speak.
Before you complain about the taste of your food - Think of someone who has nothing to eat.
Before you complain about your husband or wife - Think of someone who's crying out to GOD for a companion.
Today before you complain about life -
Think of someone who went too early to heaven.
Before you complain about your children -
Think of someone who desires children but they're barren.
Before you argue about your dirty house someone didn't clean or sweep -
Think of the people who are living in the streets.
Before whining about the distance you drive
Think of someone who walks the same distance with their feet.
And when you are tired and complain about your job -
Think of the unemployed, the disabled, and those who wish they had your job.
But before you think of pointing the finger or condemning another -
Remember that not one of us is without sin and we all answer to one MAKER.
And when depressing thoughts seem to get you down -
Put a smile on your face and thank GOD you're alive and still around.
She hated everyone, except her loving boyfriend. He was always there for her.
She told her boyfriend, 'If I could only see the world, I will marry you.'
One day, someone donated a pair of eyes to her. When the bandages came off, she was able to see everything, including her boyfriend.
He asked her,' Now that you can see the world, will you marry me?'
The girl looked at her boyfriend and saw that he was blind. The sight of his closed eyelids shocked her. She hadn't expected that. The thought of looking at them the rest of her life led her to refuse to marry him.
Her boyfriend left her in tears and days later wrote a note to her saying: 'Take good care of your eyes, my dear, for before they were yours, they were mine.'
This is how the human brain often works when our status changes.
Only a very few remember what life was like before, and who was always by their side in the most painful situations.
Life Is a Gift
Today before you say an unkind word -
Think of someone who can't speak.
Before you complain about the taste of your food - Think of someone who has nothing to eat.
Before you complain about your husband or wife - Think of someone who's crying out to GOD for a companion.
Today before you complain about life -
Think of someone who went too early to heaven.
Before you complain about your children -
Think of someone who desires children but they're barren.
Before you argue about your dirty house someone didn't clean or sweep -
Think of the people who are living in the streets.
Before whining about the distance you drive
Think of someone who walks the same distance with their feet.
And when you are tired and complain about your job -
Think of the unemployed, the disabled, and those who wish they had your job.
But before you think of pointing the finger or condemning another -
Remember that not one of us is without sin and we all answer to one MAKER.
And when depressing thoughts seem to get you down -
Put a smile on your face and thank GOD you're alive and still around.
Thursday, May 15, 2008
Asah Selalu Kapak Anda...
Kisah Si Penebang Pohon
"Kan Shu De Gu Shi"
Alkisah, seorang pedagang kayu menerima lamaran seorang pekerja, Untuk menebang pohon di hutannya. Karena gaji yang dijanjikan dan kondisi kerja yang bakal diterima sangat baik, sehingga si calon penebang pohon itu pun bertekad untuk bekerja sebaik mungkin.
Saat mulai bekerja, si majikan memberikan sebuah kapak dan menunjukkan area kerja yang harus diselesaikan dengan target waktu yang telah ditentukan kepada si penebang pohon. Hari pertama bekerja, dia berhasil merobohkan 8 batang pohon. Sore hari, mendengar hasil kerja si penebang, sang majikan terkesan dan memberikan pujian dengan tulus, "Hasil kerjamu sungguh luar biasa! Saya sangat kagum dengan kemampuanmu menebang pohon-pohon itu. Belum pernah ada yang sepertimu sebelum ini. Teruskan bekerja seperti itu."
Sangat termotivasi oleh pujian majikannya, keesokan hari si penebang bekerja lebih keras lagi, tetapi dia hanya berhasil merobohkan 7 batang pohon. Hari ketiga, dia bekerja lebih keras lagi, tetapi hasilnya tetap tidak memuaskan bahkan mengecewakan. Semakin bertambahnya hari, semakin sedikit pohon yang berhasil dirobohkan.
"Sepertinya aku telah kehilangan kemampuan dan kekuatanku. Bagaimana aku dapat mempertanggungjawab kan hasil kerjaku kepada majikan?" pikir penebang pohon merasa malu dan putus asa.
Dengan kepala tertunduk dia menghadap ke sang majikan, meminta maaf atas hasil kerja yang kurang memadai dan mengeluh tidak mengerti apa yang telah terjadi.
Sang majikan menyimak dan bertanya kepadanya, "Kapan terakhir kamu mengasah kapak?"
"Mengasah kapak? Saya tidak punya waktu untuk itu. Saya sangat sibuk setiap hari menebang pohon dari pagi hingga sore dengan sekuat tenaga," kata si penebang.
"Nah, di sinilah masalahnya. Ingat, hari pertama kamu kerja? Dengan kapak baru dan terasah, maka kamu bisa menebang pohon dengan hasil luar biasa. Hari-hari berikutnya, dengan tenaga yang sama, menggunakan kapak yang sama tetapi tidak diasah, kamu tahu sendiri, hasilnya semakin menurun.
Maka, sesibuk apa pun, kamu harus meluangkan waktu untuk mengasah kapakmu, agar setiap hari bekerja dengan tenaga yang sama dan hasil yang maksimal. Sekarang mulailah mengasah kapakmu dan segera kembali bekerja!" perintah sang majikan.
Sambil mengangguk-anggukan kepala dan mengucap terimakasih, si penebang berlalu dari hadapan majikannya untuk mulai mengasah kapak.
"Xiu Xi Bu Shi Zou Deng Yu Chang De Lu"
Istirahat bukan berarti berhenti.
"Er Shi Yao Zou Geng Chang De Lu"
Tetapi untuk menempuh perjalanan yang lebih jauh lagi.
Sama seperti si penebang pohon, kita pun setiap hari, dari pagi hingga malam hari, seolah terjebak dalam rutinitas terpola. Sibuk, sibuk dan sibuk, sehingga seringkali melupakan sisi lain yang sama pentingnya, yaitu istirahat sejenak mengasah dan mengisi hal-hal baru untuk menambah pengetahuan, wawasan dan spiritual. Jika kita mampu mengatur ritme kegiatan seperti ini, pasti kehidupan kita akan menjadi dinamis, berwawasan dan selalu baru!
"Kan Shu De Gu Shi"
Alkisah, seorang pedagang kayu menerima lamaran seorang pekerja, Untuk menebang pohon di hutannya. Karena gaji yang dijanjikan dan kondisi kerja yang bakal diterima sangat baik, sehingga si calon penebang pohon itu pun bertekad untuk bekerja sebaik mungkin.
Saat mulai bekerja, si majikan memberikan sebuah kapak dan menunjukkan area kerja yang harus diselesaikan dengan target waktu yang telah ditentukan kepada si penebang pohon. Hari pertama bekerja, dia berhasil merobohkan 8 batang pohon. Sore hari, mendengar hasil kerja si penebang, sang majikan terkesan dan memberikan pujian dengan tulus, "Hasil kerjamu sungguh luar biasa! Saya sangat kagum dengan kemampuanmu menebang pohon-pohon itu. Belum pernah ada yang sepertimu sebelum ini. Teruskan bekerja seperti itu."
Sangat termotivasi oleh pujian majikannya, keesokan hari si penebang bekerja lebih keras lagi, tetapi dia hanya berhasil merobohkan 7 batang pohon. Hari ketiga, dia bekerja lebih keras lagi, tetapi hasilnya tetap tidak memuaskan bahkan mengecewakan. Semakin bertambahnya hari, semakin sedikit pohon yang berhasil dirobohkan.
"Sepertinya aku telah kehilangan kemampuan dan kekuatanku. Bagaimana aku dapat mempertanggungjawab kan hasil kerjaku kepada majikan?" pikir penebang pohon merasa malu dan putus asa.
Dengan kepala tertunduk dia menghadap ke sang majikan, meminta maaf atas hasil kerja yang kurang memadai dan mengeluh tidak mengerti apa yang telah terjadi.
Sang majikan menyimak dan bertanya kepadanya, "Kapan terakhir kamu mengasah kapak?"
"Mengasah kapak? Saya tidak punya waktu untuk itu. Saya sangat sibuk setiap hari menebang pohon dari pagi hingga sore dengan sekuat tenaga," kata si penebang.
"Nah, di sinilah masalahnya. Ingat, hari pertama kamu kerja? Dengan kapak baru dan terasah, maka kamu bisa menebang pohon dengan hasil luar biasa. Hari-hari berikutnya, dengan tenaga yang sama, menggunakan kapak yang sama tetapi tidak diasah, kamu tahu sendiri, hasilnya semakin menurun.
Maka, sesibuk apa pun, kamu harus meluangkan waktu untuk mengasah kapakmu, agar setiap hari bekerja dengan tenaga yang sama dan hasil yang maksimal. Sekarang mulailah mengasah kapakmu dan segera kembali bekerja!" perintah sang majikan.
Sambil mengangguk-anggukan kepala dan mengucap terimakasih, si penebang berlalu dari hadapan majikannya untuk mulai mengasah kapak.
"Xiu Xi Bu Shi Zou Deng Yu Chang De Lu"
Istirahat bukan berarti berhenti.
"Er Shi Yao Zou Geng Chang De Lu"
Tetapi untuk menempuh perjalanan yang lebih jauh lagi.
Sama seperti si penebang pohon, kita pun setiap hari, dari pagi hingga malam hari, seolah terjebak dalam rutinitas terpola. Sibuk, sibuk dan sibuk, sehingga seringkali melupakan sisi lain yang sama pentingnya, yaitu istirahat sejenak mengasah dan mengisi hal-hal baru untuk menambah pengetahuan, wawasan dan spiritual. Jika kita mampu mengatur ritme kegiatan seperti ini, pasti kehidupan kita akan menjadi dinamis, berwawasan dan selalu baru!
Thursday, March 06, 2008
Manusia Super
Sekedar berbagi cerita di forum orang orang super dalam keindahan hari ini :
Siang ini February 6, 2008, tanpa sengaja, saya bertemu dua manusia super.Mereka mahluk mahluk kecil, kurus, kumal berbasuh keringat. Tepatnya diatas jembatan penyeberangan setia budi, dua sosok kecil berumur kira kiradelapan tahun menjajakan tissue dengan wadah kantong plastik hitam.
Saat menyeberang untuk makan siang mereka menawari saya tissue diujung jembatan, dengan keangkuhan khas penduduk Jakarta saya hanya mengangkat tangan lebar lebar tanpa tersenyum yang dibalas dengan sopannya oleh mereka dengan ucapan "Terima kasih Oom !". Saya masih tak menyadari kemuliaan mereka dan Cuma mulai membuka sedikit senyum seraya mengangguk kearah mereka.
Kaki - kaki kecil mereka menjelajah lajur lain diatas jembatan, menyapa seorang laki laki lain dengan tetap berpolah seorang anak kecil yang penuhkeceriaan, laki laki itupun menolak dengan gaya yang sama dengan saya, lagi lagi sayup sayup saya mendengar ucapan terima kasih dari mulut kecil mereka. Kantong hitam tampat stok tissue dagangan mereka tetap teronggok disudut jembatan tertabrak derai angin Jakarta.
Saya melewatinya dengan lirikan kearah dalam kantong itu, duapertiga terisi tissue putih berbalut plastik transparan. Setengah jam kemudian saya melewati tempat yang sama dan mendapati mereka tengah mendapatkan pembeli seorang wanita, senyum diwajah mereka terlihat berkembang seolah memecah mendung yang sedang manggayut langit Jakarta .
"Terima kasih ya mbak. semuanya dua ribu lima ratus rupiah!" tukas mereka, tak lama siwanita merogoh tasnya dan mengeluarkan uang sejumlah sepuluhribu rupiah ."Maaf, nggak ada kembaliannya ..ada uang pas nggak mbak ? " mereka menyodorkan kembali uang tersebut. Si wanita menggeleng, lalu dengan sigapnya anak yang bertubuh lebih kecil menghampiri saya yang tengah mengamati mereka bertiga pada jarak empat meter.
"Oom boleh tukar uang nggak, receh sepuluh ribuan ?" suaranya mengingatkan kepada anak lelaki saya yang seusia mereka.sedikit terhenyak saya merogoh saku celana dan hanya menemukan uang sisa kembalian food court sebesar empat ribu rupiah .
"Nggak punya, tukas saya !" lalu tak lama siwanita berkata "ambil saja kembaliannya, dik !" sambil berbalik badan dan meneruskan langkahnya kearahujung sebelah timur.Anak ini terkesiap, ia menyambar uang empat ribuan saya dan menukarnya dengan uang sepuluh ribuan tersebut dan meletakkannya kegenggaman saya yang masih tetap berhenti, lalu ia mengejar wanita tersebut untuk memberikan uang empat ribu rupiah tadi.Siwanita kaget, setengah berteriak ia bilang "sudah buat kamu saja, nggak apa..apa ambil saja !", namun mereka berkeras mengembalikan uang tersebut.
"maaf mbak, Cuma ada empat ribu, nanti kalau lewat sini lagi saya kembalikan !" Akhirnya uang itu diterima siwanita karena sikecil pergi meninggalkannya.Tinggallah episode saya dan mereka, uang sepuluh ribu digenggaman saya tentu bukan sepenuhnya milik saya. mereka menghampiri saya dan berujar "Om, bisa tunggu ya, saya kebawah dulu untuk tukar uang ketukang ojek !".
"eeh .nggak usah ..nggak usah ..biar aja ..nih !" saya kasih uang itu ke sikecil, ia menerimanya tapi terus berlari kebawah jembatan menuruni tanggayang cukup curam menuju ke kumpulan tukang ojek.Saya hendak meneruskan langkah tapi dihentikan oleh anak yang satunya, "Nanti dulu Om, biar ditukar dulu ..sebentar "
"Nggak apa apa, itu buat kalian " Lanjut saya"jangan ..jangan Om, itu uang om sama mbak yang tadi juga" anak itu bersikeras"Sudah ..saya Ikhlas, mbak tadi juga pasti ikhlas ! saya berusaha membargain, namun ia menghalangi saya sejenak dan berlari keujung jembatanberteriak memanggil temannya untuk segera cepat, secepat kilat juga ia meraih kantong plastik hitamnya dan berlari kearah saya."Ini deh om, kalau kelamaan, maaf .." ia memberi saya delapan pack tissue"Buat apa ?" saya terbengong
"Habis teman saya lama sih Om, maaf, tukar pakai tissue aja dulu " walau dikembalikan ia tetap menolak .Saya tatap wajahnya, perasaan bersalah muncul pada rona mukanya. Saya kalah set, ia tetap kukuh menutup rapat tas plastic hitam tissuenya.Beberapa saat saya mematung di sana, sampai sikecil telah kembali dengan genggaman uang receh sepuluh ribu, dan mengambil tissue dari tangan sayaserta memberikan uang empat ribu rupiah.
"Terima kasih Om , !"..mereka kembali keujung jembatan sambil sayup sayup terdengar percakapan "Duit mbak tadi gimana ..? " suara kecil yang lain menyahut "lu hafal kan orangnya, kali aja ketemu lagi ntar kita kasihin..." percakapan itu sayup sayup menghilang, saya terhenyak dan kembali kekantor dengan seribu perasaan.Tuhan ..Hari ini saya belajar dari dua manusia super, kekuatan kepribadian mereka menaklukan Jakarta membuat saya trenyuh, mereka berbalut baju lusuh tapi hati dan kemuliaannya sehalus sutra, mereka tahu hak mereka dan hak orang lain, mereka berusaha tak meminta minta dengan berdagang Tissue .
Dua anak kecil yang bahkan belum baligh, memiliki kemuliaan diumur mereka yang begitu belia.YOU ARE ONLY AS HONORABLE AS WHAT YOU DO
Engkau hanya semulia yang kau kerjakan.
MTSaya membandingkan keserakahan kita, yang tak pernah ingin sedikitpun berkurang rizki kita meski dalam rizki itu sebetulnya ada milik orang lain .
"Usia memang tidak menjamin kita menjadi Bijaksana, kitalah yang memilih untuk menjadi bijaksana atau tidak"Semoga pengalaman nyata ini mampu menggugah saya dan teman lainnya untuk lebih SUPER.
Siang ini February 6, 2008, tanpa sengaja, saya bertemu dua manusia super.Mereka mahluk mahluk kecil, kurus, kumal berbasuh keringat. Tepatnya diatas jembatan penyeberangan setia budi, dua sosok kecil berumur kira kiradelapan tahun menjajakan tissue dengan wadah kantong plastik hitam.
Saat menyeberang untuk makan siang mereka menawari saya tissue diujung jembatan, dengan keangkuhan khas penduduk Jakarta saya hanya mengangkat tangan lebar lebar tanpa tersenyum yang dibalas dengan sopannya oleh mereka dengan ucapan "Terima kasih Oom !". Saya masih tak menyadari kemuliaan mereka dan Cuma mulai membuka sedikit senyum seraya mengangguk kearah mereka.
Kaki - kaki kecil mereka menjelajah lajur lain diatas jembatan, menyapa seorang laki laki lain dengan tetap berpolah seorang anak kecil yang penuhkeceriaan, laki laki itupun menolak dengan gaya yang sama dengan saya, lagi lagi sayup sayup saya mendengar ucapan terima kasih dari mulut kecil mereka. Kantong hitam tampat stok tissue dagangan mereka tetap teronggok disudut jembatan tertabrak derai angin Jakarta.
Saya melewatinya dengan lirikan kearah dalam kantong itu, duapertiga terisi tissue putih berbalut plastik transparan. Setengah jam kemudian saya melewati tempat yang sama dan mendapati mereka tengah mendapatkan pembeli seorang wanita, senyum diwajah mereka terlihat berkembang seolah memecah mendung yang sedang manggayut langit Jakarta .
"Terima kasih ya mbak. semuanya dua ribu lima ratus rupiah!" tukas mereka, tak lama siwanita merogoh tasnya dan mengeluarkan uang sejumlah sepuluhribu rupiah ."Maaf, nggak ada kembaliannya ..ada uang pas nggak mbak ? " mereka menyodorkan kembali uang tersebut. Si wanita menggeleng, lalu dengan sigapnya anak yang bertubuh lebih kecil menghampiri saya yang tengah mengamati mereka bertiga pada jarak empat meter.
"Oom boleh tukar uang nggak, receh sepuluh ribuan ?" suaranya mengingatkan kepada anak lelaki saya yang seusia mereka.sedikit terhenyak saya merogoh saku celana dan hanya menemukan uang sisa kembalian food court sebesar empat ribu rupiah .
"Nggak punya, tukas saya !" lalu tak lama siwanita berkata "ambil saja kembaliannya, dik !" sambil berbalik badan dan meneruskan langkahnya kearahujung sebelah timur.Anak ini terkesiap, ia menyambar uang empat ribuan saya dan menukarnya dengan uang sepuluh ribuan tersebut dan meletakkannya kegenggaman saya yang masih tetap berhenti, lalu ia mengejar wanita tersebut untuk memberikan uang empat ribu rupiah tadi.Siwanita kaget, setengah berteriak ia bilang "sudah buat kamu saja, nggak apa..apa ambil saja !", namun mereka berkeras mengembalikan uang tersebut.
"maaf mbak, Cuma ada empat ribu, nanti kalau lewat sini lagi saya kembalikan !" Akhirnya uang itu diterima siwanita karena sikecil pergi meninggalkannya.Tinggallah episode saya dan mereka, uang sepuluh ribu digenggaman saya tentu bukan sepenuhnya milik saya. mereka menghampiri saya dan berujar "Om, bisa tunggu ya, saya kebawah dulu untuk tukar uang ketukang ojek !".
"eeh .nggak usah ..nggak usah ..biar aja ..nih !" saya kasih uang itu ke sikecil, ia menerimanya tapi terus berlari kebawah jembatan menuruni tanggayang cukup curam menuju ke kumpulan tukang ojek.Saya hendak meneruskan langkah tapi dihentikan oleh anak yang satunya, "Nanti dulu Om, biar ditukar dulu ..sebentar "
"Nggak apa apa, itu buat kalian " Lanjut saya"jangan ..jangan Om, itu uang om sama mbak yang tadi juga" anak itu bersikeras"Sudah ..saya Ikhlas, mbak tadi juga pasti ikhlas ! saya berusaha membargain, namun ia menghalangi saya sejenak dan berlari keujung jembatanberteriak memanggil temannya untuk segera cepat, secepat kilat juga ia meraih kantong plastik hitamnya dan berlari kearah saya."Ini deh om, kalau kelamaan, maaf .." ia memberi saya delapan pack tissue"Buat apa ?" saya terbengong
"Habis teman saya lama sih Om, maaf, tukar pakai tissue aja dulu " walau dikembalikan ia tetap menolak .Saya tatap wajahnya, perasaan bersalah muncul pada rona mukanya. Saya kalah set, ia tetap kukuh menutup rapat tas plastic hitam tissuenya.Beberapa saat saya mematung di sana, sampai sikecil telah kembali dengan genggaman uang receh sepuluh ribu, dan mengambil tissue dari tangan sayaserta memberikan uang empat ribu rupiah.
"Terima kasih Om , !"..mereka kembali keujung jembatan sambil sayup sayup terdengar percakapan "Duit mbak tadi gimana ..? " suara kecil yang lain menyahut "lu hafal kan orangnya, kali aja ketemu lagi ntar kita kasihin..." percakapan itu sayup sayup menghilang, saya terhenyak dan kembali kekantor dengan seribu perasaan.Tuhan ..Hari ini saya belajar dari dua manusia super, kekuatan kepribadian mereka menaklukan Jakarta membuat saya trenyuh, mereka berbalut baju lusuh tapi hati dan kemuliaannya sehalus sutra, mereka tahu hak mereka dan hak orang lain, mereka berusaha tak meminta minta dengan berdagang Tissue .
Dua anak kecil yang bahkan belum baligh, memiliki kemuliaan diumur mereka yang begitu belia.YOU ARE ONLY AS HONORABLE AS WHAT YOU DO
Engkau hanya semulia yang kau kerjakan.
MTSaya membandingkan keserakahan kita, yang tak pernah ingin sedikitpun berkurang rizki kita meski dalam rizki itu sebetulnya ada milik orang lain .
"Usia memang tidak menjamin kita menjadi Bijaksana, kitalah yang memilih untuk menjadi bijaksana atau tidak"Semoga pengalaman nyata ini mampu menggugah saya dan teman lainnya untuk lebih SUPER.
Subscribe to:
Comments (Atom)